krisis data mbg

Krisis Data MBG dan Risiko Salah Arah Kebijakan

Krisis data MBG semakin terasa ketika program Makan Bergizi Gratis bergerak dari tahap perluasan menuju fase konsolidasi. Jika sebelumnya perhatian publik lebih banyak tertuju pada seberapa luas jangkauan program, kini muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem informasi yang menopangnya sudah cukup kuat untuk menjaga ketepatan arah kebijakan.

Dalam program berskala nasional, data bukan sekadar angka di laporan. Ia adalah dasar pengambilan keputusan. Ketika dasar ini tidak kokoh, risiko salah sasaran dan inefisiensi menjadi semakin besar, meskipun niat kebijakannya baik.

Ketika Informasi Tidak Lagi Berjalan Seirama

Salah satu ciri utama krisis data adalah ketidaksinkronan informasi antar level pelaksana. Angka yang muncul di satu laporan bisa berbeda dengan yang dipakai di lapangan. Perbedaan kecil ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa merambat jauh ke perencanaan logistik dan penganggaran.

Masalah ini diperparah oleh ritme perubahan yang cepat. Data penerima, kapasitas dapur, dan jadwal distribusi bisa berubah dalam waktu singkat, sementara sistem pembaruan tidak selalu mampu mengikutinya. Akibatnya, keputusan sering diambil berdasarkan informasi yang sudah tidak sepenuhnya relevan.

Di sisi lain, penguatan infrastruktur fisik sebenarnya terus berjalan. Di beberapa daerah, penataan dapur bahkan didukung oleh pusat alat dapur MBG untuk memastikan standar kerja lebih rapi. Namun, tanpa data yang sama-sama rapi, keunggulan infrastruktur tidak selalu berbanding lurus dengan ketepatan perencanaan.

Gejala Krisis Data yang Paling Sering Muncul

Beberapa tanda berikut kerap menjadi sinyal bahwa sistem informasi sedang tidak sehat:

  • Perbedaan angka antara laporan pusat dan catatan lapangan,
  • Perubahan rencana distribusi yang terlalu sering dan mendadak,
  • Kesulitan menelusuri sumber data saat terjadi masalah,
  • Serta evaluasi program yang lebih banyak bersandar pada perkiraan daripada angka yang solid.

Gejala-gejala ini jarang muncul sekaligus. Namun, jika dibiarkan, ia bisa membentuk pola ketidakpastian yang melemahkan kepercayaan terhadap sistem.

1. Data sebagai Dasar, Bukan Pelengkap

Salah satu kesalahan umum dalam pengelolaan program besar adalah memposisikan data sebagai urusan administratif belaka. Padahal, dalam konteks MBG, data seharusnya menjadi titik awal setiap keputusan penting.

Tanpa basis data yang akurat, perencanaan hanya menjadi latihan menebak. Dampaknya bukan hanya pada efisiensi anggaran, tetapi juga pada kualitas layanan yang diterima oleh masyarakat.

2. Fragmentasi Sistem dan Beban Koordinasi

Krisis data MBG juga terpicu oleh fragmentasi sistem informasi. Banyak unit kerja memiliki cara pencatatan masing-masing, tetapi tidak selalu berada dalam satu kerangka yang terintegrasi. Akibatnya, proses sinkronisasi memakan waktu dan energi yang tidak sedikit.

Beban koordinasi ini sering kali jatuh ke pelaksana di lapangan, yang sebenarnya sudah terbebani oleh tugas operasional harian. Ketika waktu lebih banyak habis untuk mencocokkan angka, fokus pada peningkatan kualitas layanan pun ikut tergerus.

3. Dampak Jangka Panjang terhadap Kepercayaan Publik

Masalah data jarang langsung terlihat oleh masyarakat. Namun, dampaknya cepat terasa dalam bentuk layanan yang tidak konsisten atau perubahan kebijakan yang membingungkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengikis kepercayaan publik.

Kepercayaan adalah aset yang terbangun perlahan, tetapi bisa runtuh dengan cepat jika ketidakpastian terus berulang. Karena itu, krisis data bukan hanya isu teknis, melainkan juga isu reputasi kebijakan.

Dari Masalah Teknis ke Tantangan Tata Kelola

Jika kita membaca lebih dalam, krisis data MBG mencerminkan tantangan tata kelola. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan program tidak selalu sejalan dengan penguatan sistem informasi. Ketimpangan ini perlu segera kita benahi.

Solusinya tidak cukup dengan menambah aplikasi atau formulir baru. Yang lebih penting adalah menyederhanakan alur pelaporan, menyatukan standar data, dan membangun budaya kerja yang menghargai akurasi informasi.

Kesimpulan

Krisis data MBG adalah masalah yang jarang tersorot, tetapi sangat menentukan arah kebijakan. Ia tidak menghasilkan headline, namun memengaruhi hampir semua keputusan penting. Dengan menata ulang fondasi data secara serius, MBG tidak hanya akan berjalan lebih rapi, tetapi juga lebih adil, lebih efisien, dan lebih dapat mereka pertanggungjawabkan dalam jangka panjang.